Kamis, 26 Mei 2016

Harga Komoditas Membaik

Jakarta - Harga sejumlah komoditas dunia perlahan-lahan mulai membaik, meski masih jauh di bawah masa keemasannya. Tren kenaikan harga terutama terjadi pada komoditas energi seperti minyak mentah (crude oil) dan batu bara, dan komoditas pangan seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
Lonjakan harga juga terjadi pada komoditas mineral-logam, seperti aluminium, tembaga, timah, emas, dan perak. Pemulihan harga tersebut diyakini akan terus berlanjut dan mendongkrak nilai ekspor Indonesia. Namun, di tengah tren kenaikan harga, pemerintah jangan mengendurkan program hilirisasi agar dapat memberikan nilai tambah pada komoditas primer serta mendorong transformasi industri.
Berdasarkan data Bank Dunia yang dirilis 3 Maret 2016, pada Februari 2016 rata-rata harga komoditas energi meningkat 1,8 persen dibanding bulan sebelumnya, dan harga komoditas pangan juga melonjak 1,8 persen. Lonjakan harga juga terjadi pada komoditas bahan baku yang meningkat 0,8 persen, logam dan mineral 4,5 persen, dan logam mulia hingga 8,9 persen.
Dari semua komoditas yang mengalami kenaikan harga, lonjakan paling signifikan terjadi pada CPO yang mencapai 12 persen, dari US$ 566 per metrik ton (mt) pada Januari 2016 menjadi US$ 639 per mt pada Februari 2016. Harga emas melonjak hingga 9,2 persen, yakni dari US$ 1.098 per troy ounce (toz) menjadi US$ 1.200 per toz. Saat ini, harga emas sudah di kisaran US$ 1.256 per toz.
Di sisi lain, rata-rata harga minyak mentah pada Februari 2016 mencapai US$ 31 per barel dari US$ 29,8 per barel pada bulan sebelumnya. Bahkan untuk minyak mentah jenis Brent naik menjadi menjadi US$ 33,2 dari US$ 30,8 per barel. Harga batu bara patokan pasar Australia juga naik dari US$ 49,8 per mt menjadi US$ 50,9 per mt.
Harga beras Thailand (dengan patahan 25 persen) juga naik dari US$ 361 per mt menjadi US$ 374 per mt, begitu juga harga karet yang pada Januari US$ 1,22 per kilogram (kg) menjadi US$ 1,26 per kg. Sedangkan aluminium dari US$ 1.481 per mt menjadi US$ 1.531 per mt, tembaga dari US$ 4.472 per mt jadi US$ 4.599 per mt, timah dari US$ 13.808 per mt jadi US$ 15.610 per mt.
Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listianto mengatakan kenaikan harga komoditas primer akan membawa berkah bagi Indonesia karena memang selama ini ekspor Indonesia masih berupa komoditas primer. Neraca perdagangan akan membaik dengan kenaikan harga komoditas itu.
Namun demikian, kenaikan harga komoditas primer tersebut akan menjadi tantangan tersendiri bagi program hilirisasi yang sudah dicanangkan pemerintah.
“Penyakit orang Indonesia itu adalah kalau harga komoditas naik, maka lebih senang ekspor bahan mentah daripada mengolahnya jadi produk jadi atau setengah jadi. Inilah yang harus dicegah pemerintah, kenaikan harga komoditas jangan membuat Indonesia terlena dan lupa membangun hilirisasi,” katanya kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (21/3).
Eko mengatakan pemerintah dan pengusaha berbasis komoditas harus paham bahwa hilirisasi merupakan strategi paling jitu untuk menciptakan perekonomian nasional yang berbasissustainable. Margin atau keuntungan dari hilirisasi jauh lebih besar ketimbang mengekspor komoditas dalam bentuk mentah. Hilirisasi bukan saja menciptakan nilai tambah dari sisi produk, namun juga bisa menciptakan investasi baru dan menyerap banyak sekali tenaga kerja di dalam negeri.
“Jadi meskipun harga komoditas sepertinya akan berlanjut, konsisten pemerintah akan hilirisasi harus diutamakan. Apalagi, Presiden Jokowi sudah bilang saat ini bukan zamannya mengekspor produk mentah. Idealnya, dalam kondisi harga komoditas anjlok ataupun membaik, hilirisasi tetap jalan karena ini yang bisa menyelamatkan ekonomi Indonesia ke depan,” jelasnya.
Menurut dia, kalaupun pemerintah memutuskan untuk menggenjot ekspor komoditas seiring pulihnya harga di pasar internasional, pemerintah harus memberikan insentif yang sangat signifikan bagi pelaku usaha yang setia melakukan hilirisasi. Misalnya, pajak ekspor diberlakukan untuk produk mentah, sedangkan untuk ekspor produk hilir bebas hambatan bahkan diberi insentif lebih.
“Untuk CPO misalnya, kalau harga komoditas naik maka bea keluar (BK) harus segera diterapkan. Untuk CPO, mekanisme sudah ideal, link and macth aturan dan kondisi di lapangan sudah sangat baik, begitupun soal teknologi,” katanya.
Eko mengatakan untuk hilirisasi CPO, saatnya Indonesia meniru Malaysia, sedangkan untuk produk makanan dan minuman, tirulah Thailand. Di Malaysia dan Thailand ada upaya hilirisasi yang luar biasa. Ini terbukti dengan produk jadi dan setengah jadi yang masuk Indonesia.
“Ekspor komoditas primer itu sudah dilakukan zaman VOC, kalau sekarang sudah merdeka, maka Indonesia idealnya tidak lagi melakukan itu. Hilirisasi itu juga bisa mengatasi ketimpangan yang semakin lebar antara Jawa dan luar Jawa, karena sumber bahan baku umumnya di luar Jawa,” jelas dia.
Senada dengannya, Wakil Ketua Umum Kadin bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani mengingatkan pemerintah agar jangan terlena oleh kenaikan harga-harga komoditas primer yang akan mendongkrak nilai ekspor nasional. “Pemerintah harus terus menjalankan program hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk komoditas primer,” katanya.
Dia menambahkan, hilirisasi harus segera dijalankan, terutama untuk produk CPO yang saat ini sebagian produknya diekspor. “Pemerintah jangan hanya mengejar ekspor komoditas primer, tapi melupakan hilirisasi, terutama untuk CPO,” ujarnya.
Di samping itu, lanjut Shinta, pemerintah harus mengembangkan sektor-sektor industri di dalam negeri. “Sebenarnya sudah ada 12 sektor prioritas, tapi pemerintah belum memiliki peta jalan(road map) dan juga belum ada how to untuk mencapainya,” katanya.
Dari 12 sektor prioritas itu, dia menyebut sektor makanan dan makanan paling cepat untuk dikembangkan karena Indonesia punya bahan baku (raw material) yang besar untuk industri ini.
“Sektor industri makanan dan minuman merupakan pengembangan dari sektor agribisnis. Jadi bisa cepat memberikan banyak nilai tambah,” ucapnya.
Terkait hilirisasi CPO, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyatakan hilirisasi industri berbasis CPO di Tanah Air saat ini sudah on the right track (di jalur yang tepat). Pada 2015, ekspor CPO dan turunannya mencapai 24 juta ton dan ekspor dalam bentuk CPO hanya 7 juta ton atau tidak sampai 30 persen dan selebihnya bukan CPO atau dalam bentuk refined atau terproses. “Ekspor sudah lebih dari 70 persen dalam bentuk hilir,” kata dia.
Yang menjadi pertanyaan, lanjut Joko, adalah apabila memang akan dilakukan hilirisasi CPO ke tingkat industri yang lebih lanjut memang tidak cukup hanya dalam bentuk imbauan.
“Sekarang, mau hilirisasi yang mana, yang seperti apa? Ini sebenarnya yang tidak ada kesamaan. Misalnya, industri oleokimia itu naik terus, tapi fasilitas pemerintah sudah memadai belum? Intinya, banyak hal yang harus dilakukan untuk memenangi pasar. Apalagi kalau tujuannya adalah produk akhir bernilai tinggi, proteksinya harus lebih," kata Joko.
Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan mengungkapkan harga CPO global mulai menggeliat pada pekan pertama Februari 2015. Harga bergerak di kisaran US$ 575–650 per mt. Ini adalah pertama kalinya harga CPO global menyentuh US$ 600 per mt sejak Agustus 2015.
Faktor utama yang mendongkrak harga CPO global adalah berkurangnya stok minyak sawit di Indonesia dan Malaysia dan produksi yang menurun karena El Nino yang panjang tahun lalu serta mulai berjalannya program biodiesel di Indonesia dan Malaysia.
"Sentimen positif ini akan terus berlanjut, karena saat ini beberapa daerah sentra penghasil sawit di Indonesia sedang dilanda banjir sehingga mengganggu panen dan transportasi buah sawit," kata dia.
Staf Pengajar pada Kwik Kian Gie School of Business , Hasan Zein Mahmud mengungkapkan perekonomian Indonesia sejauh ini masih sangat tergantung pada ekspor komoditas primer. Dengan begitu, kenaikan harga di pasar internasional tentu bisa menguntungkan bagi Indonesia yang selama ini mengalami problem defisit transaksi berjalan yang hanya bisa diatasi dengan menaikkan ekspor.
“Ini bisa menjadi bantuan bagi Indonesia yang ekonomi makronya memiliki tantangan defisit transaksi berjalan. Tetapi harus diingat kenaikan harga ini juga harus dipantau, kalau pertumbuhan ekonomi dunia sustainable maka akan menyeret kenaikan harga energi yang kemudian bergeser pada kenaikan harga bahan mentah dan pertambangan. Tapi Tiongkok saat ini ekonominya juga masih melambat, jadi harapannya ekonomi global terus membaik,” ungkapnya.
Hasan Zein juga mengatakan, kenaikan harga minyak mentah diikuti oleh kenaikan harga komoditas lain. Harga minyak yang sempat berada di titik terendah US$ 24 per barel, saat ini mencapai US$ 40 per barel. Hal itu di antaranya diikuti dengan naiknya harga timah dari US$ 14.000 per mt menjadi US$ 16.000 per mt. Kenaikan harga itu bisa jadi karena meningkatnya permintaan seiring dengan membaiknya perekonomian dunia.
“Penentu harga komoditas adalah pertumbuhan ekonomi dunia. Saat ini perekonomian AS positif dan mulai menguat, tetapi Eropa masih jalan di tempat dan Jepang masih belum meyakinkan. Namun kalau harga komoditas primer membaik berarti itu sinyal positif adanya perbaikan ekonomi dunia,” ujarnya.
Emas Paling KinclongSementara itu, Dekan IPMI International Business School Roy Sembel serta analis dan Pendiri LBP Enterprises Lucky Bayu Purnomo menuturkan saat ini harga komoditas dunia memang telah mulai menunjukkan adanya tren perbaikan. Namun tren perbaikan akan sangat terasa pada semester II-2016.
Harga emas, CPO, dan pangan, akan pulih lebih dahulu. Setelah itu dilanjutkan pemulihan harga komoditas logam terutama nikel, timah, dan aluminium, dan minyak mentah pada akhir tahun. Sedangkan harga batu bara baru akan pulih tahun depan.
Dari semua komoditas dunia yang berpotensi mengalami perbaikan harga, komoditas emas menjadi yang paling kinclong. Pada 2011-2012, harga emas sempat mencapai US$ 1.800 per toz dan pada 2013 masih sempat US$ 1.411 per toz.
Menurut Roy Sembel, saat ini harga emas sudah mulai menunjukkan tren kenaikan di level plus minus US$ 1.100 per toz. Harga emas sempat mencapai rekor tertinggi US$ 1.800 per toz pada 2011-2012 dan terus merosot hingga di level US$ 1.000 per toz. Harga emas sempat tak bergerak alias stagnan selama delapan tahun.
“Setelah lama diam, emas mulai bergerak naik di level plus minus US$ 1.100 per toz. Harga akan terus bergerak mengikuti inflasi dan munculnya sejumlah sentimen positif lain. Pada semester II-2016, harga emas akan di kisaran US$ 1.200-1.300 per toz,” jelas dia.
Roy mengungkapkan sentimen positif bagi perbaikan harga emas adalah gejolak mata uang dunia yang relatif tinggi membuat masyarakat lebih memegang investasi yang tangible yaitu emas. Pulihnya perekonomian Eropa dan Amerika Serikat (AS) juga membuat pembelian barang merah (luxury), termasuk emas, meningkat.
India juga menjadi konsumen emas terbesar dunia seiring posisi negara tersebut sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara negara-negara besar, menggantikan posisi Tiongkok. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang di atas 5 persen juga akan mendorong permintaan emas meningkat.
“Ketidakpastian mata uang dunia membuat orang-orang memegang investasi yang tangible itu adalah sentimen utama membaiknya harga emas,” jelas dia.
Lucky Bayu Purnomo juga menuturkan harga emas akan berada di kisaran US$ 1.350 per toz pada akhir kuartal II 2016 atau awal semester II 2016. Para pelaku pasar menilai instrumen keuangan saat ini tidak begitu agresif, nilai indeks saham di hampir semua bursa dunia masih di bawah kinerja tahun sebelumnya. Artinya, pasar modal saat ini belum menjadi pilihan, pelaku pasar memilih komoditas emas.
“Pelaku pasar melihat pasar mana yang paling agresif atau paling membukukan keuntungan dan komoditas terutama emas menjadi pilihan karena secara jangka pendek-menengah akan menguntungkan,” ujar dia.
Lucky Bayu mengungkapkan tren kenaikan harga emas akhir-akhir ini pada akhirnya menjadi barometer bagi para pelaku pasar bahwa potensi kenaikan harga komoditas masih cukup dinamis. Hal ini yang kemudian akan membuat harga sejumlah komoditas dunia pun akan menuai tren harga positif.
“Kenaikan harga emas menjadi barometer bahwa ada tren positif untuk pasar komoditas. Kenaikan harga emas akan disertai kenaikan harga komoditas lain, terutama minyak mentah dan CPO,” ungkap dia.
Sementara itu, Roy Sembel memperkirakan harga CPO dan pangan pokok juga akan mengalami tren perbaikan pada awal semester II 2016. CPO yang dimanfaatkan sebagai bahan energi akan mengalami peningkatan konsumsi seiring penggunaannya sebagai energi terbarukan di sejumlah negara, terutama Indonesia. Konsumsinya juga akan meningkat sebagai bahan pangan.
“Begitupun dengan konsumsi pangan pokok, terutama gandum, akan mengalami kenaikan harga seiring perbaikan ekonomi AS, juga meningkatkan jumlah masyarakat kelas menengah. Untuk minyak akan terus ada perbaikan, kalau ini terjadi maka akan makin mengerek harga komoditas dunia lainnya,” jelas Roy Sembel. 

sumber:beritasatu.com

0 comments:

Posting Komentar