Rabu, 04 Mei 2016

The Winning Concept: Dari Rujak di Garasi Hingga Lima Restoran

Dapur Solo berasal dari ide sederhana seorang ibu rumah tangga bernama Swandani Kumarga, biasa dipanggil dengan Ny. Swan. Pada tahun 1988 ia tergugah memulai bisnis rumahan untuk memperoleh pemasukan tambahan. 

Garasi di rumah disulap menjadi tempat berjualan makanan kegemarannya: rujak dan jus buah. Dengan modal Rp.100.000,- ia membeli mesin penghancur es, buah-buahan dan beberapa lusin gelas. Brosur promosi ditulis tangan dan diantarkan dari rumah ke rumah dengan naik sepeda onthel. 

Mulai dengan omset Rp.3.000,- per hari atau Rp.90.000,- s/d Rp.150.000,- per bulan, lambat laun bisnis tersebut menampakkan hasil menggembirakan. Wanita kelahiran Solo 10 Desember 1961 ini memberanikan diri menyewa ruko dan membuka restoran yang menyediakan aneka kuliner khas Solo, seperti Selat Solo, Nasi Langgi dan Asem-Asem Iga.  
Dari garasi ke ruko, dari ruko ke lima restoran plus tiga divisi, yaitu: Dapur Solo Lunch Box, DS Catering Services dan Oleh-Oleh Sowan, Dapur Solo memiliki nilai-nilai yang mendorong semua karyawan untuk bekerja dengan baik. Menarik disimak adalah the Winning Concept-nya yang terdiri dari the winning system, the winning people dan the winning infrastructure. 
Menarik pula bahwa Ny. Swan yang terkenal dengan keramahan dan totalitasnya dalam melayani pelanggan kini coba membuat “replika” dirinya, yaitu dengan mengembangkan konsep “Mas Solo” dan “Jeng Solo” yang bertugas untuk menyapa konsumen, menerima keluhan serta masukan bagi peningkatan di masa depan. 
Demikianlah sedikit dari banyak hal yang disampaikan oleh Ibu Swandani Kumarga, pendiri Dapur Solo, pada Kuliah Umum di Auditorium Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie, Rabu 11 November 2015 lalu. 

Mari bermental juara!

0 comments:

Posting Komentar